Mahasiswa STTNAS Temukan Alat Pendeteksi Pelanggar Marka Jalan

20-07-18 kampus 0 comment

Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) berhasil membuat alat pendeteksi bagi pelanggar marka jalan. Alat yang dilengkapi kamera Closed Circuit Television (CCTV) itu dapat memberi peringatan secara otomatis kepada pelanggar marka jalan di traffic light.

Mahasiswa yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemenristekdikti ini antara lain, Arriski Karindra, Dedy Ariyanto, Rizki Ismail, Dimas Sapri Nugroho dan Rickey Herlambang. Tim ini mengangkat judul Sistem Peringatan Pelanggar Marka Jakan Otomatis Pada Traffic Light di DIY.

Arriski Karindra menjelaskan komponen yang digunakan dalam alat temuannya terdiri atas, kamera CCTV, Raspberry atau mikro komputer, speaker dan amplifier. Jika CCTV di pasang di atas jalan raya, maka tiga komponen lainnya bisa ditempatkan dalam satu titik. Alat itu bisa memberi peringatan secara otomatis kepada pelanggar marka jalan di traffic light.

“Fokus penggunaan pada marka jalan di traffic light yang belok kiri jalan terus. Karena biasanya, banyak pengendara yang sebenarnya dia akan berjalan lurus di persimpangan tetapi di berhenti melanggar marka dan mengambil hak pengendara yang akan berbelok dan ini menjadi masalah kemacetan di Jogja,” kata dia.

Dimas Sapri Nugroho menambahkan cara kerja sistem itu dari kamera yang menangkap gambar pada titik di luar garis marka jalan. Hasil tangkapan kamera akan diproses di raspberry mikro komputer kemudian raspberry memberikan perintah berupa output untuk menampilkan suara pada speaker. Suara itu berisi peringatan ada pengendara yang melanggar marka jalan.

“Kalau integrasi dengan traffic light ketika menyala merah, dia akan memberikan input sinyal menandakan kalau kamera harus siap-siap baru nanti bekerja. Jadi kamera merekam ketika ada objek yang terbaca,” ujarnya.

Risky Ismail mengatakan jika dipantau melalui kamera akan terlihat garis virtual, pengendara yang berada di garis virtual tersebut, berarti berada di luar marka atau melanggar.

Dedy Ariyanto mengatakan biaya pembuatan alat tersebut menghabiskan dana sekitar Rp5 juta, namun jika diproduksi dalam jumlah banyak akan lebih murah. Berdasarkan risetnya, belum ada yang menerapkan alat tersebut terutama di DIY. Ia menemukan ada di Jawa Timur namun tidak otomatis, melainkan petugas yang mengingatkan pengendara secara live dari pantauan CCTV.

“Prinsip kerja alat ini menggunakan cara image processing dengan cara mendeteksi garis dan warna. Warna yang terdeteksi adalah warna putih selain dari putih tidak akan terdeteksi karena garis marka di Indonesia menggunakan warna putih,” jelasnya.

Rickey Herlambang berharap hasil rakitannya bersama tim yang didampingi dosen pembimbing itu bisa memberikan manfaat dan dapat mengurangi kemacetan.