Mahasiswa Ikatan Ahli Geologi Indonesia (SM-IAGI) STTNAS Merawat Lingkungan dengan Menanam Mangrove di Pantai Baros

19-11-18 kampus 0 comment

Popularitas Pantai Baros di Bantul sebagai tempat wisata ikut mengancam keberadaannya sebagai kawasan konservasi mangrove. Untuk menjaganya, Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi (HMTG) Bumi STTNAS Yogyakarta dan SM IAGI bersama warga Baros menanam puluhan bibit mangrove (17/11/18).

Ini merupakan kegiatan kedua penanaman mangroveyang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi (HMTG) Bumi STTNAS Yogyakarta dan SM IAGI. Berbeda dengan kegiatan penanaman mangrove tahun lalu, kali ini akan dilakukan pemantauan akan kondisi mangrove yang sudah ditanam setiap bulannya.

Mangrove adalah sebutan untuk semua jenis tumbuhan pesisir di daerah pasang-surut, yang sifatnya toleran terhadap garam. Sementara itu, bakau adalah sebutan untuk salah satu jenis mangrove yang tumbuh di Indonesia, yaitu jenis Rhizophora.

Muara sungai opak Pantai Baros memiliki konservasi mangrove seluas 8 Ha dimana telah terdapat kawasan untuk pencadangan. Surat keputusan (SK) Bupati Bantul No, 284 tahun 2014., telah mencadangkan kawasan konservasi Taman Pesisir di Kabupaten Bantul seluas 132 Ha yang terbagi menjadi tiga zona yaitu zona inti seluas 10 Ha, zona pemanfaatan terbatas seluas 28 Ha, dan zona pemanfaatan lainnya seluas 94 Ha.

Kondisi hutan mangrove di Indonesia kritis. Indonesia memiliki lahan mangrove seluas 3,48 juta hektar, tapi 1,8 juta hektar di antaranya rusak. Pada akhir 2017, terjadi banjirdi Kabupaten Bantul yang menyebabkan setidaknya 10 hektar tanah di kawasan pesisir mengalami abrasi terkikis, serta menghanyutkan ribuan bakau yang terdapat di pantai Baros.

Untuk melaksanakan kegiatan menanam mangrove Pantai Baros dipilih sebagai tempat yang tepat karena Pantai Baros merupakan kawasan hutan Mangrove sejak 2013. Alasan lain dipilih adalah karena saat ini Pantai Baros tak hanya menjadi kawasan hutan mangrove namun juga kawasan wisata, lambat laun penduduk yang tinggal di dusun Baros semakin bertambah, hal ini memberikan dampak negatif pada petumbuhan mangrove seperti sampah-sampah yang berada di kawasan hutan mangrove.

Oleh karena itu, rehabilitasi lahan dibutuhkan agar ekosistem mangrove di Pantai Baros bisa kembali berfungsi dengan baik. Melalui kegiatan yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi (HMTG) Bumi STTNAS Yogyakarta dan SM IAGI, mengajak semua individu untuk peduli dengan alam, dengan ikut berkontribusi.

Proses menanam mangrove yang dilakukan di Pantai Baros (17/11/18).
Kegiatan menanam mangrove ini mengangkat tema “Save Earth for Our Future” dilaksanakan pada Sabtu ,17 November 2018di Kawasan Hutan Mangrove Muara Sungai Opak di Dusun Baros, Desa Tirtohargo, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul.

Rehabilitasi dengan penanaman pohon mangrove merupakan bagian program dari Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi (HMTG) Bumi STTNAS Yogyakarta dan SM IAGI, yang masuk dalam rangkaian kegiatan peduli alam dalam memperingati hari-hari tertentu.

Al Hussein Flowers Rizqi, sebagai dosen Teknik Geologi STTNAS memiliki keinginan untuk melakukan motioring pohon-pohon mangrove yang sudah ditanam setiap bulannya.
“Pada awalnya pohon mangrove ditanam di air, apabila nanti sudah tumbuh maka akan diarahkan lagi. Untuk tahun ini rencananya tiap satu bulan sekali kami akan melakukan monitoring secara intensif.Musuh utama bagi mangrove adalah sampah, mengingat tempat menanam mangrove adalah hilir maka sampah merupakan masalah yang tak dapat dihindari,” kata Dwi.

Kegiatan menanam mangrove ini juga bekerja sama dengan Keluarga Pemuda-Pemudi Pantai Baros (KPPB). Dwi selaku perwakilan dari KPPB memberikan arahan terkait cara menanam mangrove yang benar, dan memberikan edukasi terkait jenis-jenis mangrove, hingga fase-fase pertumbuhan mangrove.Dengan bantuan oleh KPPB, lebih dari puluhan bibit mangrove berhasil ditanam di sekitar pantai Baros.

“Penanaman bibit mangrove ini sangat membantu perkembangan konservasi di pantai Baros. Kegiatan kepedulian alam semacam ini patut untuk diapresiasi dan terus dilaksanakan,” kata Dwi.

Kegiatan ini diikuti oleh 60 orang termasuk mahasiswa, dosen dan warga sekitar. Peserta sebagian besar merupakan mahasiswa. Beberapa peserta masih merasa baru akan kegiatan ini Monica, salah satu peserta kegaitan, mengatakan bahwa kesempatan untuk menanam bakau seperti ini mungkin tak datang dua kali.

“Saya selalu ingin melakukan sesuatu untuk menyelamatkan bumi. Namun, baru kali ini saya merasa benar-benar menjadi bagian (kegiatan menyelamatkan bumi). Sejujurnya saya baru pertama kali ini mendengar ada kegiatan menanam pohon mangrove, jadi saya begitu bersemangat untuk mengikuti kegiatan ini,” kata Monica.

“Kami ingin ilmu yang kita miliki bisa diterima oleh orang lain, sekalipun tidak tergabung dalam kegiatan seperti mapala, seperti kegiatan menanam mangrove ini. Kami ingin menjadi pihak yang mengajak orang-orang untuk ikut berpartisipasi dan tahu pentingnya mangrove tak hanya bagi laut, tapi juga bagi air dan bumi,” kata Monica.
(d2)